Home » Uncategorized » Tuan Presiden, Tangkaplah Pembunuh Munir*

Tuan Presiden, Tangkaplah Pembunuh Munir*

Blog Stats

  • 53,378 hits

Categories

Flickr Photos

More Photos

Top Clicks

  • None

Tuan Presiden, para pembunuh Munir itu sekarang berkeliaran bebas di negeri ini. Sekarang mereka yakin, membunuh manusia itu sah bila hukum dapat dimanipulasi. Membunuh itu benar sepanjang fakta, kebenaran, hukum dapat direkayasa dan kekuasaan dominan melindunginya.
Membunuh Munir sebagai duri politik adalah awal kecongkak- an, lalu meracuni ruang publik dengan beragam versi kebenaran, kemudian mereka akan membunuh siapa saja, dengan alasan apa saja, di kemudian hari. 

Tuan Presiden, mereka tidak sendirian. Vonis majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, 20 Desember 2005, menyatakan, “Pollycarpus melakukan perbuatan pidana turut melakukan pembunuhan berencana… dilakukan secara berkawan atau berkomplot (conspiracy) yang berakibat hilangnya jiwa orang lain.” Namun, Pollycarpus, menurut Mahkamah Agung, 4 Oktober 2006, tidak terbukti membunuh. Artinya, komplotan pembunuh Munir berkeliaran bebas di ruang publik, mengintip dan memilih korban berikutnya. Siapa tahu saya atau Anda, Tuan Presiden. 

Republik ketakutan 

Tuan Presiden, republik ini sekarang menjadi republik ketakutan. Para pembunuh menertawakan para pencari keadilan, istri Munir dan anak-anaknya, orangtua dan keluarga Munir, sahabat dan simpatisannya di dalam dan luar negeri. Ketakutan berpikir bebas, berekspresi, dan mengeluarkan pendapat. Kebebasan inilah yang dimusuhi setiap rezim dan praktik totaliter. 

Melalui represi militer, ketakutan direkayasa secara vulgar, selama 32 tahun Soeharto-Orde Baru dengan ribuan korban terbunuh, dipenjara, dan dihilangkan sampai sekarang. Soeharto mendapat impunitas sempurna dan bahagia bersama keluarga di hari tua. Ketakutan terhadap komplotan pembunuh Munir yang berkeliaran adalah ketakutan subtil, ancamannya tak terlihat langsung, tetapi merampas kebebasan secara mutlak. Karena risikonya tak terhitung, para pembunuh Munir itu bisa berkeliaran atas nama NKRI, keamanan nasional, stabilitas politik, bahkan reformasi. 

Tuan Presiden, bila kami mengkritik negeri ini teramat keras, bukan berarti kami tidak mencintai negeri ini. Teramat bodohlah Pollycarpus atau para pembunuh Munir bila menganggap kami ingin memorakporandakan negeri ini sehingga pantas untuk dibunuh. Kami mencintai negeri ini, tetapi juga mencintai keadilan, kebebasan, dan kemanusiaan. Tanpa nilai tersebut, negeri ini menjadi negeri barbar, bukan tempat manusia sebagai warga negara. Republik adalah tempat di mana warga negara bebas dilindungi hak paling dasarnya, hak untuk hidup! Republik adalah rumah bagi warga negara bebas dan hidup! 

“A test of our history” 

Tuan Presiden, Anda pernah berjanji akan menuntaskan kasus pembunuhan Munir sebagai ’a test of our history’, apakah sejarah kita sudah menghargai kesetaraan di depan hukum. Janji seorang presiden menjelma harapan bagi setiap warga negara karena presiden seorang pengambil keputusan dan memiliki wewenang dan perangkat kerja untuk mewujudkan janji. Presiden adalah eksekutor bagi janji-janjinya. Kata-kata yang tidak ditepati, tidak diperjuangkan menjadi kenyataan, bukanlah janji, tetapi ilusi! Tentu seorang presiden yang jujur bukanlah ilusionis. 

Tuan Presiden, ’a test of our history’ adalah sebuah falsifikasi, pengujian yang mahakeras untuk melumpuhkan hipotesis bahwa hukum hanya berpihak pada penguasa dan pengusaha. Sejarah antidemokrasi kita sudah berujung pada pembunuhan Munir. 

Janji tanpa bukti tak akan mampu menghentikan sejarah barbar ini. Tindakanlah alat membuktikan falsifikasi, bila gagal seperti sekarang, benarlah hipotesis lama, hukum berpihak pada penguasa, pengusaha, dan pembunuh Munir! 

Tuan Presiden, pada hari ini juga, dengan kewenangan yang demikian besar pada jabatan kepresidenan, mengulangi usulan penegak HAM juga Suciwati, istri almarhum Munir, Anda dapat membentuk tim independen kepresidenan dengan mandat menindaklanjuti putusan majelis hakim PN Jakarta Pusat, termasuk temuan Tim Pencari Fakta Kasus Munir yang dahulu Anda bentuk. Nama-nama seperti Ramelgia Anwar, Oedi Irianto, Yeti Susmiarti, bahkan Mayor Jenderal (purn.) Muchdi Purwopranjono (Deputi V Badan Intelijen Negara) dan Jenderal (purn.) Hendro Priyono (Direktur Badan Intelijen Negara) tercantum di sana. 

Tuan Presiden, percayalah, kekecewaan dan ketakutan bertubi warga negara akan menggerogoti kepercayaan pada Anda, kepresidenan, dan lembaga negara lainnya. Keraguan, ketidaktegasan, dan ketidakpedulian hingga menyerahkan kasus Munir lewat mekanisme biasa membuat lega para pembunuh Munir, dan mereka bersukaria setelah Polly- carpus dibebaskan. Membunuh itu mudah dan menyenangkan! 

Tuan Presiden, memimpin berarti berjanji dan menepatinya. Memimpin berarti menciptakan harapan dan menjadikannya realitas sosial, tak ragu walaupun mengorbankan kekuasaan. Ragu-ragu menepati janji atau menganggap janji sebagai kata-kata pemanis belaka menjadi kuburan bagi kepemimpinan. 

Tuan Presiden, sejarah Munir sekarang ada di tangan Anda, apakah akan menjadi sejarah keadilan atau sejarah ketidakadilan, tergantung pada kualitas kepemimpinan dan keberanian Anda. **

* ImageKompas, 6 Oktober 2006 – Oleh: M Fadjroel Rachman 
Ketua Lembaga Pengkajian Demokrasi dan Negara Kesejahteraan [Pedoman Indonesia]

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: