Home » liputan » Presiden Muda Indonesia Anno 2009

Presiden Muda Indonesia Anno 2009

Blog Stats

  • 53,378 hits

Categories

Flickr Photos

More Photos

Top Clicks

  • None

Liputan 6.com, 28/07/2008 17:54
Presiden Muda Indonesia Anno 2009

Tidak ada yang salah jika seorang anak muda ingin memimpin negerinya: menjadi presiden, misalnya. Menjadi masalah jika keinginan ini diubah menjadi tuntutan, apalagi dengan argumen sekadar karena ia muda–di bawah usia 50 tahun, misalnya. Ide dan gerakan politik ini bisa menyesatkan, seperti sesatnya argumen tindakan afirmatif (affirmative action) buat memberi jatah 30 persen perempuan di parlemen.

Tidak ada korelasi, apalagi kausalitas sifatnya, antara usia muda dan kapabalitas serta kapasitas memimpin–seperti tidak ada hubungan sebab-akibat antara bertambahnya jumlah anggota parlemen perempuan akan melahirkan produk legislasi lebih baik. Terlalu banyak bukti empirik yang bisa dijadikan penyangkal argumen yang fisikal ini, karena itu sulit diterima baik secara intelektual maupun moral.

Sebagai bangsa kita memang patut kecewa. Dibanding negara tetangga yang juga mengalami krisis ekonomi sepuluh tahun lalu, kita adalah bangsa yang paling lambat pulihnya. Faktor kepemimpinan adalah salah satu sebab yang sering disebutkan. B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono dinilai gagal karena tidak punya ide segar dan visi jauh ke depan serta watak yang kokoh.

Anak-anak muda, seperti Rizal Mallarangeng (44), M. Fadjroel Rachman (44), Ratna Sarumpaet(sudah tidak muda lagi, pada 2009 berusia 60 tahun), Yusril Ihza Mahendra (53), Tifatul Sembiring (47), dan lainnya merasa saatnya generasi mereka memimpin negeri. Generasi sebelum mereka, yang sudah terbukti gagal, hendaklah tahu diri dengan misalnya tidak lagi mencalonkan diri pada pemilihan presiden tahun depan.

Yusril, misalnya, merasa perlu maju mencalonkan diri jadi presiden karena pengalamannya sekian tahun di kabinet, terutama di kabinet Yudhoyono, membuka matanya betapa lamban dan tidak kapabelnya sang presiden. “Lebih baik saya yang menjadi presidennya,” begitu kata Yusril.

Fadjroel sudah siap dengan sejumlah langkah yang menurut dia penting dan strategis dilakukan, misalnya, menasionalisasi perusahaan asing, menerapkan pajak progresif setinggi mungkin, menuntaskan kasus korupsi mantan Presiden Soeharto, dan mengadili para jenderal yang terlibat pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan terhadap kemanusiaan di masa lalu.

Rizal Mallarangeng? Kita belum pernah mendengar setegas yang ditawarkan Fadjroel dari Rizal. Ia lebih mirip Yusril, hanya mengemukakan impuls dan motif. Kalau Yusril jengkel melihat presiden yang dibantunya lamban, makal Rizal kecewa karena sepertinya tidak ada harapan buat masa depan Indonesia yang lebih baik jika masih dipimpin oleh kaum tua. Ratna Sarumpaet? Setali tiga uang, kita pun belum mendengar apa yang akan ia lakukan jika kelak menjadi presiden.

Maka, kita hanya bisa mengira-ngira. Kalau Fadjroel menjadi presiden, maka sistem pengorganisasian dan pengelolaan ekonomi kita akan berubah. Sistem neo-liberalisme yang kini berjaya akan berganti dengan sistem ekonomi sosialisme-demokrasi. Kalau Rizal menjadi presiden, tidak akan ada perubahan sistem ekonomi dan bahkan akan diperdalam dan diperkuat. Ini terbukti dari betapa antusiasnya Rizal membela kebijakan neo-liberal, misalnya mencabut subsidi dan menggadaikan kekayaan negara pada asing (kasus ExxonMobil di Blok Cepu).

Kalau Yusril menjadi presiden, maka kaum fundamentalis dan radikal Islam akan berjaya. Akan banyak lahir kebijakan dan legislasi yang bersumber dari nilai-nilai dan ajaran Islam. Kaum non-Islam tetap dihormati dan dijaga hak-haknya sejauh tidak menyimpang dari ajaran Islam. Kalau Ratna Sarumpaet menjadi presiden, karena ia pernah begitu getol dan peduli berkampanye untuk menggungkap kasus pembunuhan buruh Marsinah dengan Teater Satu Merah Panggung-nya, maka sistem ekonomi kita bisa mirip seperti apa yang hendak diperjuangkan Fadjroel.

Sekarang terserah Anda, mau pilih mana: yang muda apa yang tua? Ini kalau Anda percaya, bahwa dalam sistem kita bernegara, seorang presiden punya kuasa luar biasa sehingga bisa mengubah sistem hidup kita. Tapi kalau Anda percaya bahwa perubahan bukan di tangan presiden seorang, tapi menyebar di tangan banyak orang (ratusan anggota DPR), muda atau tua sebenarnya tidak relevan.

Iskandar Siahaan
Kepala Litbang Liputan 6


1 Comment

  1. halilihasan says:

    Bung Fadjroel..Saya sering mengikuti forum anda. Saya kagum dengan pemikiran-pemikiran anda. Khususnya nasionalisasi dan soal HAM. Di METRO TV beberapa waktu yang lalu, gagasan anda soal STOK KAPITAL membedakan anda dengan tiga pembicara lainnya.

    Sebagai akademisi muda sekaligus aktivis HAM, saya sangat support anda menjadi CAPRES 2009.

    Hanya, saya menyarankan, sebaiknya anda tidak menggunakan sentimen TUA-MUDA. Sebaiknya anda tawarkan agenda-agenda. Tulislah buku, kemudian diseminasikan di kalangan muda. Kemudian, diseminasikan agenda-agenda anda ke akar rumput melalui orang-orang muda tersebut, khususnya kalangan yang selama ini memang memiliki masyarakat basis. Saya yakin anda punya jaringan untuk itu. Masih ada waktu beberapa bulan lagi. Sekali lagi, sentimen TUA-MUDA kurang populer. Banyak orang tua yang “mencibir”, sayang kan? mereka juga punya potensi suara yang harus diraup. Fokus saja pada AGENDA. Hampir seluruh pemimpin progresif di Amerika Latin tidak menggunakan isu TUA-MUDA, tapi lebih fokus ke AGENDA PROGRESIF yang solutif bagi persoalan riil masyarakat. Itu yang dilakukan Hugo Chavez beberapa tahun sebelum terpilih pada tahun 1998.

    Satu hal lagi, anda juga harus berancang-ancang untuk merapat ke Partai Politik yang se-AGENDA dengan anda. Sehingga, di saat jalur INDEPENDEN mentok, ada emergency exit. SELAMAT BERJUANG! Rakyat sudah capek dengan keadaan terus menerus semakin miskinnya mereka..

    Oh iya, satu lagi perlu diingat juga, Chavez sukses juga dengan kendaraan parpol “Gerakan Republik Kelima/Movement of 5th Republic” yang dia dirikan bersama orang-orang progresif sepertinya. Anda mungkin tidak perlu bikin parpol sendiri (sudah telat juga!), masyarakat muak dengan partai-partai status quo dan partai-partai baru! Jadi, fokus saja pada diseminasi dan sosialisasi AGENDA-AGENDA PROGRESIF!!

    Keep spirit, logic, dan tetap santun.. (Ini INDONESIA bung!)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: